Jumat, 26 Desember 2008

“10 Besar Remaja Putri Tercantik dan Terpintar Se-Ponorogo, Mbak!!”

Pas malem final, gue dirias sama guru tari gue, Bu Sari, di rumahnya. Hampir telat, soalnya udah setengah tujuh belum dijemput. Tapi gue sih nggak terlalu khawatir, soalnya ya nggak niat dari awal itu tadi. Telat biarin, di-diskualifikasi, biarin. Habis males banget malem itu. Paling juga di Watu Dakon (tempat grandfinalnya) juga molor jadwalnya.

Sampe sana, bener aja. Molooor banget. Khasnya Indonesia, sih. Hehe…

Singkat cerita, gue tampil di paradenya. Habis itu dijejer (disuruh berdiri doang nggak ngapa-ngapain) di atas panggung sampe sekitar seperempat jam buat nunggu juri rapat. Capek, boooo!!! Gile! Pake sandal selop hak 7 cm, pake kebaya, pake kain jarik, terus disuruh berdiri segitu lamanya sambil senyum ke seluruh penonton…haloooo…siapa yang nggak capek coba?!

Akhirnya, jurinya selesai juga dan segeralah 15 besar Kakang dan 15 besar senduknya diumumin. Asli, gue udah pesimis banget soalnya selama 3 hari penjurian kemarin gue nggak ja’im abis biar dinilai anggun. Kan kontes beginian mesti anggun. Gue cuma menjaga kesopanan dengan wajar aja selama 3 hari penjurian kemarin itu. Karena biasanya gue emang nggak sopan. Ngupil nggak kenal tempat, kentut, sendawa…hehe…tapi nggak setiap saat juga.

Lha, ternyata?!

“Kontestan yang beruntung lolos ke babak 15 besar berikutnya adalah, peserta Senduk dengan nomer…dua puluh……empat!!!!!!”
JLEG! Rasanya jantung gue naik ke ubun-ubun (?). Kaget! Nggak nyangka! Surprised! Ngerasa mimpi! Dan kayaknya heels sepatu gue mau patah saat itu juga.
Akhirnya dengan senyum setengah kaget, gue maju ke barisan depan, bersatu dengan para 15 besar yang lain.

Gile! Dari 44 peserta Senduk, gue bisa lolos ke 15 besar! Wiiihh!! Sejarah baru gue bisa masuk 15 besar kontes kecantikan begini!

Setelah diumumin, satu per satu peserta 15 besar menjawab pertanyaan juri. Giliran gue, eh, ternyata barengan sama peserta Kakang pasangan gue dari sekolah, si Hamid. Ngepas banget! Haha! Gue dapet pertanyaan :

“Jika kamu adalah seorang duta wisata sebuah kota dan ditunjuk untuk mewakili kontes RAKA-RAKI Jawa Timur, kota mana yang akan Anda pilih untuk Anda wakili?”

Gue jawab pake bahasa Inggris, bahwa gue memilih kota Ponorogo karena masih banyak aset Ponorogo yang mesti digali agar Ponorogo menjadi lebih populer.
Setelah selesai semua, kami para 15 besar turun ke balik panggung. Ada satu peserta cewek yang juga masuk 15 besar teriak sambil megang tangan gue, “15 remaja putri tercantik dan terpintar se-Ponorogo, Mbak!!" Gue cuman ngangguk-ngangguk aja, dan dalam hati gue ngedumel “Ini anak lebay banget, sih?!” LOL. Haha!!!

Pas pengumuman 10 besar, gue udah deg-degan aja. Pas nomer gue disebut, makin deg-deganlah gue! Gile! 10 besar, Kawan-kawan!

“10 remaja putri tercantik dan terpintar se-Ponorogo, Mbak!!” Cewek yang tadi teriak-teriak lagi ke gue. Gue, sekali lagi, cuman senyum dan ngangguk-ngangguk.

Nah, di babak inilah gue “terpeleset” waktu gara-gara lupa apa bahasa Inggrisnya “persyaratan”. Haha! Tapi gue anggep, malem itu sebagai malem yang fun buat gue. I had a fun time up there.

Meskipun nggak masuk 5 besar…gue bersyukur. Nggak niat-niatnya, malah masuk 15 besar bahkan sampe 10 besar! Nggak disangka-sangka! Temen-temen yang nonton aja pada pelukan, nangis, dan bilang gue udah bagus banget malem itu.
Just another unforgettable moment to keep and remember…setelah 50 besar Olimpiade Bahasa Inggris di UNM Malang kemarin…

Thanks God…alhamdulillah hirabbil ‘alamin…

Thanks to all my friends, my mom, and all the people in the world whom keep praying for the greatness of others

_love.phobia_

0 casciscus: